Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus memperkuat deteksi dini penyakit dan sejak 2026 mulai memasuki tahap pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis menderita penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti CKG, melampaui target mingguan pemerintah. Kementerian Kesehatan optimistis target 130 juta peserta hingga akhir 2026 dapat tercapai, seiring pelaksanaan pemeriksaan kesehatan di sekolah pada tahun ajaran baru. Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, CKG menjadi fondasi perubahan paradigma layanan kesehatan dari berfokus pada pengobatan menjadi pencegahan.
Hasil CKG juga memetakan berbagai persoalan kesehatan berdasarkan kelompok usia. Pada bayi baru lahir, skrining menunjukkan bahwa penyakit jantung bawaan kritis menjadi temuan utama yang memerlukan tindak lanjut. Sementara pada anak usia sekolah hingga remaja, masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah karies gigi, diikuti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan kesehatan mental, risiko tuberkulosis, serta persoalan gizi. Data tersebut juga menunjukkan Indonesia menghadapi double burden of malnutrition, yakni tingginya kasus gizi kurang dan gizi lebih atau obesitas secara bersamaan.
Selain deteksi dini, CKG kini berfokus pada pengendalian penyakit kronis melalui pengobatan rutin. Hasil sementara menunjukkan hampir separuh pasien hipertensi yang kembali menjalani pemeriksaan berhasil mengendalikan tekanan darah, sementara sekitar 69 persen pasien diabetes yang kembali diperiksa berhasil mengontrol kadar gula darah. Pemerintah menargetkan lebih banyak penderita menjalani pengobatan secara rutin, dengan harapan dapat menekan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui layanan kesehatan yang berkelanjutan.
