Usai Peluncuran B50, Prabowo Targetkan RI Produksi BBM dari Sawit dan Singkong

Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mampu memproduksi bahan bakar minyak berbasis komoditas lokal setelah peluncuran program Biodiesel 50 atau B50. Pemerintah saat ini mendorong pengembangan bensin dari kelapa sawit serta etanol dari singkong dan jagung sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada energi. Prabowo berharap produksi bahan bakar berbasis tanaman tersebut dapat dilakukan secara komersial dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Pengembangan energi berbasis komoditas dalam negeri dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, memperkuat neraca perdagangan, dan menjaga ketahanan energi nasional dari risiko geopolitik global. Prabowo menyatakan penerapan B50 mulai mengurangi kebutuhan impor solar karena bahan bakunya dapat dipenuhi dari produksi minyak kelapa sawit domestik. Kebijakan tersebut juga diharapkan memperbesar pemanfaatan sumber daya energi terbarukan di dalam negeri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memperkirakan penerapan B50 dapat meningkatkan penghematan devisa menjadi sekitar Rp170 triliun, lebih tinggi dibandingkan penghematan melalui B40 yang mencapai sekitar Rp133 triliun. Program ini juga diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit swadaya, terutama ketika harga dan permintaan ekspor CPO melemah. Melalui hilirisasi sawit, pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah industri, menjaga harga hasil perkebunan, dan memperkuat kesejahteraan petani.

Search