Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbaru terhadap Iran di Selat Hormuz. Pihak Iran menuding AS telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. Iran menegaskan akan mengambil langkah tegas dalam menyikapi serangan tersebut. Pihak Iran mengatakan AS telah melanggar Pasal 10 nota kesepahaman dengan membatalkan pengecualian sementara atas sanksi yang menargetkan penjualan minyak Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan terbaru di Selat Hormuz menunjukkan “itikad buruk” dan membuktikan bahwa pemerintah AS tidak dapat dipercaya.
Untuk diketahui, AS baru saja mengumumkan serangan terbaru di wilayah Selat Hormuz. Serangan itu terjadi usai Iran mengirimkan rudal ke sejumlah kapal komersial yang melintas di selat tersebut. “Serangan AS ini merupakan tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz dan bertujuan untuk memberikan konsekuensi berat atas tindakan menargetkan dan menyerang pelayaran komersial,” bunyi pernyataan Komando Pusat AS dilansir AFP, Rabu (8/7/2026).
“Agresi yang ditunjukkan Iran tersebut tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata,” tambahnya. Serangan tersebut terjadi pada Selasa (7/7) malam waktu setempat. Media pemerintah Iran melaporkan serangkaian ledakan terdengar di sejumlah wilayah Selat Hormuz usai pengumuman dari militer Amerika. Kantor berita IRIB melaporkan enam ledakan terdengar di Pulau Qeshm, Iran, tujuh ledakan terdengar di kota Sirik, dan lebih banyak lagi ledakan terdengar di kota pelabuhan utama Bandar Abbas.
