Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,56 persen pada perdagangan Rabu (24/6/2026), di tengah tekanan jual yang melanda mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Investment Specialist KISI, Ahmad Faris Mu’tashim, menyebut koreksi IHSG pada perdagangan Kamis tidak semata-mata dipicu oleh MSCI Market Classification Review. Faktor lebih dominan adalah penguatan indeks dollar AS (DXY) yang mendorong pelemahan nilai tukar rupiah nyaris menyentuh Rp18.000 per dollar AS. Kondisi tersebut memicu arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar keuangan domestik, sehingga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap IHSG dibandingkan sentimen MSCI.
Belum dicabutnya kebijakan interim freeze oleh MSCI juga menjadi faktor lain yang ikut menekan bursa, meski bukan satu-satunya penyebab pelemahan indeks. “MSCI memandang perubahan kebijakan yang sudah dilakukan oleh regulator sudah on the track, namun mereka memperpanjang freeze untuk memastikan penerapan aturan dilakukan dengan konsisten,” papar Faris.
Karena itu, respons pasar terhadap keputusan MSCI beragam. Di satu sisi, pelaku pasar merasa kecewa karena belum ada pencabutan interim freeze. Di sisi lain, investor institusi umumnya baru akan meningkatkan eksposur ketika seluruh indikator perbaikan pasar menunjukkan hasil yang lebih jelas. Tekanan jual pada perdagangan Rabu lebih dominan berasal dari investor asing.
