Jagad politik Indonesia akhir-akhir di warnai dengan sejumlah partai politik seperti PKB, PAN, Golkar, Nasdem, Demokrat, dan PSI yang mempertanyakan posisi politik PDI Perjuangan secara terbuka dan tajam apakah koalisi atau oposisi.
Partai-partai politik ini khawatir akan berkurangnya kursi kekuasaan jika PDIP tidak menunjukkan posisi politiknya. Namun, PDIP dengan tegas menyatakan sikapnya yakni mendukung kebijakan pemerintah yang sejalan dengan ideologi partai, namun kritis terhadap kebijakan yang dianggap merugikan rakyat atau menyimpang dari nilai-nilai Trisakti.
Kekhawatiran partai-partai politik ini dinilai sebagai sebuah fenomena “politik baper” ketika menghadapi kritik. Politik yang emosional dan sentimentil dianggap berbahaya karena dapat mengganggu rasionalitas publik serta keteraturan sosial, terutama jika diperkuat oleh arus media sosial. Sebaliknya, kedewasaan politik menuntut kemampuan menerima kritik sebagai bagian dari demokrasi tanpa menganggapnya sebagai serangan. PDI Perjuangan dinilai konsisten memainkan simbol dan diksi politik untuk memperkuat posisinya sebagai penyeimbang.
politik Indonesia tidak mengenal “bola mati”, melainkan “bola out” yang bisa kembali masuk ke arena. PDI Perjuangan, meski saat ini tidak dominan di eksekutif maupun legislatif, tetap memiliki ruang untuk memainkan orkestrasi politik melalui kritik konstruktif dan kesadaran publik. Kekalahan politik disebut tidak abadi, dan posisi penyeimbang bisa menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga relevansi partai dalam demokrasi Indonesia.
