Bank Indonesia mewaspadai potensi tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan akibat rambatan kenaikan harga global atau imported inflation serta risiko gangguan cuaca El Nino. Meski inflasi nasional masih berada dalam rentang sasaran BI, tekanan dari harga minyak, komoditas global, dan perubahan cuaca dinilai perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu stabilitas harga.
BI mencatat dampak imported inflation terutama terlihat pada kelompok harga yang diatur pemerintah, khususnya setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi, dengan kontribusi sekitar 0,25% terhadap inflasi. Selain itu, kelompok pangan bergejolak juga menjadi perhatian karena inflasi volatile food pada Mei 2026 mencapai 6,24% yoy, didorong kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah di sejumlah daerah.
Untuk mengendalikan risiko tersebut, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui TPIP dan TPID, termasuk lewat Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera untuk menjaga pasokan, distribusi, dan stabilitas harga pangan. BI juga akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat bauran kebijakan moneter, melonggarkan instrumen makroprudensial, mempercepat digitalisasi sistem pembayaran, serta mendukung UMKM agar inflasi tetap terkendali dalam target 2,5% plus minus 1%.
