Rencana safari politik mantan Presiden Joko Widodo mengonfirmasi anomali besar dalam lanskap politik nasional. Alih-alih menjadi potret konsolidasi yang matang, safari politik ini lebih menyerupai strategi jalan pintas dengan mempersonalisasikan struktur kepemimpinannya demi dinasti politik.
Daya tarik elektoral Jokowi selama menjabat presiden banyak ditopang oleh instrumen negara seperti bantuan sosial dan kendali kebijakan. Setelah lengser, safari politiknya hanya menjadi tontonan nostalgia tanpa daya paksa untuk mengalihkan basis massa dari partai besar ke PSI. Rekam jejak PSI dalam Pemilu 2019 dan 2024 yang gagal menembus ambang batas parlemen menunjukkan bahwa strategi mengandalkan figur tunggal tidak efektif.
Diprediksi masa depan PSI akan stagnan jika tetap bergantung pada Jokowi. Suara partai diperkirakan kembali tertahan di kisaran 2–3 persen, menjadikannya partai gurem abadi. Variabel penentu justru ada pada Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden, apakah mampu menyusupkan kepentingan PSI ke dalam struktur kekuasaan aktif. Safari Jokowi hanya berfungsi membuka pintu nostalgia, sementara eksekusi politik nyata membutuhkan jejaring kekuasaan yang aktif dan berotoritas.
