Pyongyang dalam Kalkulasi Politik Luar Negeri Beijing

Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Pyongyang tanggal 8-9 Juni 2026 merupakan lawatan luar negeri pertamanya di tahun ini. Kunjungan ini menunjukkan pentingnya Korea Utara dalam kalkulasi politik luar negeri Beijing. China ingin menegaskan lagi posisinya sebagai pemain utama dalam pengelolaan keamanan kawasan di tengah perubahan tatanan geopolitik.

Mengingat, AS memiliki pangkalan militer di Korea Selatan dan Jepang, stabilitas rezim di Pyongyang menjadi salah satu kepentingan utama Beijing. China juga menghadapi tantangan berbeda yakni keeratan hubungan Korea Utara dan Rusia. Pyongyang memasok senjata dan dukungan militer bagi Moskwa, sebaliknya Rusia memberikan bantuan ekonomi, energi, dan kerja sama strategis. Untuk itu China harus berbagi pengaruh dengan Korea Utara dengan kekuatan besar lain di kawasan. Beijing tidak ingin kedekatan Pyongyang dengan Moskwa mengurangi posisinya sebagai mitra utama Korea Utara.

Beijing juga berkepentingan untuk menjaga stabilitas kawasan. Apabila terjadi keruntuhan rezim Kim Jong Un atau munculnya konflik akan berpotensi memicu gelombang pengungsi di wilayah perbatasan. Stabilitas kawasan menjadi tujuan yang lebih penting daripada ambisi geopolitik jangka pendek. Stabilisasi juga memengaruhi pola pendekatan China terhadap isu nuklir Korea Utara yang semula mendukung denuklirisasi total, kini lebih memilih mengelola risiko.

Dari kunjungan ini terlihat, politik internasional bergerak ke tatanan yang lebih kompleks dan multipolar. Pelajaran relevan bagi Indonesia adalah untuk menjaga kawasan Indo-Pasifik sebagai syarat utama bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonominya.

Search