Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi mengintegrasikan skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional. Program ini ditujukan bagi masyarakat berusia 45 tahun ke atas yang memiliki faktor risiko tinggi. Langkah tersebut dilakukan karena kanker kolorektal menjadi salah satu jenis kanker paling umum di dunia dengan sekitar 1,9 juta kasus baru setiap tahun, sementara di Indonesia menempati peringkat keempat dalam kasus kanker terbanyak dan menyebabkan lebih dari 19.000 kematian per tahun.
Menurut Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, lebih dari 70 persen pasien kanker kolorektal datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut akibat kurangnya deteksi dini. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes menerapkan skrining berlapis yang dimulai dari pengisian kuesioner, pemeriksaan colok dubur digital, hingga tes darah samar tinja (FOBT) bagi individu yang teridentifikasi berisiko tinggi.
Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa BPJS Kesehatan menanggung sebagian besar pengobatan kanker, meski beberapa terapi canggih seperti targeted therapy untuk kasus metastasis belum seluruhnya tercakup karena biaya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, serta memanfaatkan program skrining gratis sebagai upaya pencegahan dan deteksi dini kanker usus besar.
