Sifra Takain (13) duduk tenang di bawah tenda saat kunjungan Menteri Sosial ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, membawa senyum lembut meski keluarganya hidup dalam kemiskinan ekstrem. Anak sulung dari tiga bersaudara ini berasal dari Desa Oeltuah; kedua orangtuanya tuna netra bekerja sebagai tukang pijat tradisional dengan penghasilan tidak menentu. Keluarga kerap hanya mampu makan nasi dengan garam, dan bantuan Program Keluarga Harapan menjadi penopang penting kebutuhan sehari-hari.
Setelah diterima di Sekolah Rakyat dan tinggal di asrama, kehidupan Sifra berubah secara signifikan: makanan bergizi tersedia tiga kali sehari, berat badannya meningkat dari 25 kg menjadi 38,6 kg, dan ia berkembang menjadi lebih percaya diri. Di sekolah ia belajar disiplin dan kemandirian, dan kini bermimpi menjadi dokter untuk membantu orang lain dan mengangkat derajat keluarganya. Orangtuanya, yang awalnya ragu, melihat perubahan nyata dan berharap pendidikan menjadi jalan keluar jangka panjang.
Pemerintah menargetkan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di setiap kabupaten/kota untuk menampung hingga 1.000 siswa, sementara kepala sekolah dan guru dipuji atas peran mereka sebagai pendamping penuh kasih. Pengamat pendidikan mengingatkan perlunya perencanaan lanjutan pascakelulusan agar program tidak berhenti pada pendidikan dasar saja, karena keberhasilan nyata—seperti 26 dari 27 siswa yang awalnya tidak bisa membaca kini mampu—menunjukkan potensi Sekolah Rakyat sebagai pemutus lingkaran kemiskinan ekstrem.
