Rupiah Sempat Tembus Rp 17.900, Ditutup di Level Rp 17.845 Pada Perdagangan Hari Ini

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026) di level Rp17.845 per dollar AS, turun 44,5 poin atau 0,25 persen dibanding hari sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bahkan sempat menyentuh level terendah Rp17.906 per dollar AS pada pagi hari. Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi global, meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Iran serta konflik Rusia-Ukraina memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia hingga minyak WTI bergerak di kisaran 96 dollar AS per barel. Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi memicu inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mendorong penguatan dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kebutuhan dollar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen perusahaan, dan kewajiban utang luar negeri. Selain itu, perpindahan dana masyarakat ke instrumen valuta asing serta kekhawatiran investor terhadap sejumlah isu tata kelola program pemerintah turut memperburuk sentimen pasar. Analis Ibrahim Assuaibi bahkan memperkirakan rupiah berpotensi mendekati level Rp18.000 per dollar AS pada perdagangan berikutnya.

Search