Ketua Umum Asosaiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen, menyebut produksi molase sebenarnya cukup untuk menopang program E10. Program itu mencampurkan 90 persen bensin dengan 10 persen bioetanol guna menekan volume impor bahan bakar. Soemitro mengatakan, produksi tebu nasional yang dalam setahun mencapai 40 juta ton menghasilkan 2 juta kilo liter molase (5 persen) atau 500 ribu liter etanol.
Namun, tidak seluruh produksi molase itu digunakan untuk kebutuhan energi hijau/sebagian di antaranya juga digunakan untuk industri kosmetik. Meski volume produksi molase itu cukup untuk E10, namun petani tebu menilai harga beli dari pihak Pertamina terlalu murah. Perusahaan minyak dan gas negara itu hanya menawar molase petani Rp957 per kilogram. Sementara, harga jual kepada eksportir Rp1.500 per kilogram.
Menurutnya, petani tebu pernah menjual berhasil menjual molase dengan harga Rp3.000 per kilogram. Soemitro menyebut, jika eksportir berani membeli Rp1.500 per kilogram artinya mereka masih bisa menjual molase dengan harga lebih tinggi. Soemitro berharap, pemerintah menghargai petani tebu dengan mematok harga molase yang kompetitif.
