Wabah hantavirus menjadi perhatian publik setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Kekhawatiran meningkat setelah adanya laporan kematian penumpang akibat infeksi hantavirus jenis Andes. Di Indonesia sendiri, Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga pertengahan Mei 2026 mencatat enam kasus suspek hantavirus yang masih dalam pemantauan.
Epidemiolog sekaligus Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masdalina Pane, menyebut risiko hantavirus untuk menjadi wabah besar di Indonesia tergolong rendah. Hantavirus jenis HFRS yang ditemukan di Indonesia memiliki tingkat kematian sekitar 13 persen. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena gejala awal infeksi hantavirus tidak khas dan sering menyerupai influenza, seperti demam dan nyeri otot.
Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang 2024–2026, dengan rincian 20 pasien sembuh dan tiga meninggal dunia. Penularan virus di Indonesia umumnya terjadi dari tikus ke manusia, sehingga pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
