Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi pedang bermata dua bagi eksportir nasional. Di satu sisi, depresiasi rupiah membuat harga produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Namun di sisi lain, eksportir yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor justru menghadapi kenaikan biaya produksi. Diketahui, rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Mengutip data pasar spot, rupiah dibuka di level Rp 17.738 per dolar AS atau melemah 0,18% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.706 per dolar AS.
