Indonesia bersiap menghadapi fenomena El Nino pada musim kemarau yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang serius, terutama pada anak-anak. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kelompok usia anak lebih rentan karena sistem imun yang belum matang, laju napas dan metabolisme yang lebih tinggi, serta kemampuan pengaturan suhu tubuh yang belum optimal. Kondisi ini membuat anak lebih mudah terpapar polutan udara, mengalami dehidrasi, hingga berisiko mengalami heatstroke saat suhu lingkungan meningkat.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Darmawan Budi Setyanto, menjelaskan bahwa El Nino meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, terutama diare dan penyakit bawaan air akibat kekeringan dan menurunnya kualitas sanitasi. Keterbatasan air bersih dapat memicu kontaminasi bakteri seperti E.coli, Salmonella, dan Vibrio cholerae. Selain itu, kondisi udara kering dan kualitas udara yang memburuk turut meningkatkan risiko pneumonia, yang berbahaya karena paru-paru anak usia di bawah lima tahun masih dalam tahap perkembangan.
Selain penyakit infeksi, cuaca panas ekstrem selama El Nino juga meningkatkan risiko dehidrasi pada anak, mulai dari ringan hingga berat yang dapat menjadi kondisi gawat darurat. Di sisi lain, perubahan lingkungan akibat kelangkaan air menciptakan tempat berkembang biak nyamuk di genangan air bersih, sehingga berpotensi meningkatkan kasus penyakit tular vektor seperti demam berdarah dan malaria. Oleh karena itu, kewaspadaan keluarga dan penguatan upaya kesehatan lingkungan menjadi kunci untuk melindungi anak selama periode El Nino.
