Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional setelah lonjakan kasus di Provinsi Ituri. Hingga pertengahan Mei 2026 tercatat sekitar 246 kasus suspek dan 80 kematian, meski belum memenuhi kriteria pandemi global. WHO memperingatkan bahwa jumlah kasus riil kemungkinan jauh lebih besar dari data yang dilaporkan dan berpotensi menyebar secara lokal maupun regional.
Ancaman dinilai serius karena wabah dipicu virus Ebola varian Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat yang disetujui. Gejala awal menyerupai flu—demam, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan—yang dapat berkembang menjadi muntah, diare, ruam, hingga perdarahan hebat. Penularan telah meluas ke sejumlah wilayah padat aktivitas, termasuk Bunia, Mongwalu, Rwampara, hingga ibu kota Kinshasa, serta menyeberang ke Uganda dengan laporan korban meninggal. Faktor konflik bersenjata, mobilitas penduduk yang tinggi, serta fasilitas kesehatan informal mempercepat penyebaran penyakit.
WHO mendorong negara terdampak untuk segera membentuk pusat operasi darurat, memperkuat pelacakan kasus, isolasi pasien, dan pengawasan lintas batas tanpa menerapkan penutupan perjalanan internasional yang tidak berbasis sains. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa masih terdapat ketidakpastian besar terkait jumlah infeksi yang sebenarnya. Wabah ini menjadi pengingat serius mengingat Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 di wilayah tersebut, dengan epidemi paling mematikan terjadi pada 2018–2020 yang menewaskan hampir 2.300 orang dan tingkat fatalitas rata-rata mencapai sekitar 50 persen.
