Program haji ramah lansia dan disabilitas yang diusung Kementerian Haji dan Umrah menjadi acuan utama pelayanan jemaah di Arab Saudi. Melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), berbagai layanan khusus terus dioptimalkan, salah satunya program daily care bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas. Kepala Seksi Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama Jemaah Haji serta Layanan Lansia Disabilitas, Ridwan Siswanto, menjelaskan bahwa tim landis bersama tenaga kesehatan memberikan pendampingan harian seperti membantu mandi, menjaga kebersihan diri, hingga membantu kebutuhan dasar jemaah.
Selain perawatan personal, PPIH menerapkan sistem kartu kendali guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan jemaah lansia, khususnya pengguna kursi roda. Melalui sistem ini, jemaah yang hendak beribadah di Masjidil Haram akan difasilitasi dengan pendorong kursi roda resmi dan legal. Pembayaran jasa dilakukan setelah ibadah selesai, sehingga mencegah praktik tidak resmi yang sering terjadi saat kedatangan bus shalawat.
Dari sisi mobilitas, PPIH Daerah Kerja Makkah menyediakan 52 unit bus shalawat dengan spesifikasi ramah kursi roda yang tersebar di lima sektor pemondokan. Program pendukung lain juga dilakukan untuk menjaga kebugaran lansia, seperti senam bersama dalam kegiatan visitasi dan edukasi. Tim landis bahkan menyesuaikan layanan konsumsi sesuai kebutuhan individu, termasuk penyediaan makanan lunak seperti bubur dan minuman jus bagi jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.
Fasilitas akomodasi di hotel-hotel Makkah juga dinilai semakin ramah lansia, dengan jalur khusus kursi roda dan kamar mandi yang dilengkapi pegangan pengaman. Meski demikian, tantangan pelayanan tetap besar karena jumlah petugas landis di Daker Makkah kurang dari 200 orang untuk melayani sekitar 48 ribu jemaah lansia. Kendati rasio petugas dan jemaah belum ideal, tim tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal demi memastikan kenyamanan dan keselamatan seluruh jemaah haji lansia dan disabilitas.
