Pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar campuran etanol 20% (E20) pada tahun 2028 sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor bensin. Saat ini konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39–40 juta kiloliter, dengan sekitar 50% masih dipenuhi dari impor. Dengan penerapan E20, impor bensin diperkirakan dapat ditekan hingga 8 juta kiloliter.
Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung kebijakan ini karena ketersediaan bahan baku etanol seperti singkong, jagung, dan tebu yang melimpah. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam mencapai kemandirian energi, melanjutkan keberhasilan program biodiesel yang telah mengurangi impor solar melalui pencampuran minyak sawit hingga 40% dan direncanakan meningkat menjadi 50%.
Selain itu, pemerintah juga menghadapi tantangan pada sektor energi rumah tangga, khususnya ketergantungan impor LPG yang masih tinggi. Untuk mengatasinya, dikembangkan alternatif seperti Compressed Natural Gas (CNG) yang lebih murah. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah dari berbagai kawasan guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
