Teheran tengah menelaah respons Washington terhadap proposal damai 14 poin yang diajukan melalui mediator Pakistan. Rencana tersebut diklaim berfokus pada penghentian konflik secara menyeluruh, termasuk mekanisme de-eskalasi militer dan pengamanan jalur perdagangan energi. Namun, Garda Revolusi Iran menilai posisi AS masih agresif. Mereka menyebut Washington kini berada di persimpangan antara melanjutkan operasi militer yang dianggap “mustahil dimenangkan” atau menerima jalur diplomasi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut strategi tekanan maksimum kini memasuki fase baru berupa “blokade ekonomi” yang terkoordinasi dengan operasi militer bertajuk Epic Fury. Langkah ini mencakup pembatasan ekspor minyak, akses ke sistem keuangan global, hingga sanksi terhadap entitas yang membantu Iran. Dampaknya mulai terasa pada nilai tukar dan inflasi domestik Iran.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan komitmennya menjaga hubungan erat dengan AS meski muncul perbedaan tajam terkait strategi menghadapi Iran. Pernyataan ini muncul setelah Trump mengindikasikan pengurangan signifikan jumlah pasukan AS di Eropa, yang memicu kekhawatiran soal komitmen keamanan Washington terhadap sekutunya. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, secara langsung meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Dalam komunikasinya dengan Menlu Iran, ia juga menekankan pentingnya penghentian program nuklir.
Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk lebih dari 10 desa di selatan Lebanon, bahkan di luar zona yang selama ini diduduki. Langkah ini menandakan potensi perluasan operasi militer terhadap target yang diduga terkait Hizbullah. Kelompok Hizbullah menegaskan tidak akan terlibat dalam negosiasi damai antara Lebanon dan Israel. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, bahkan menyatakan pihaknya siap menggagalkan proses tersebut.
