Badan Pangan Nasional mengizinkan Perum Bulog menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menggunakan stok kemasan dari tahun-tahun sebelumnya imbas fluktuasi bahan baku plastik. “Langkah ini penting dilakukan untuk percepatan distribusi,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa. Ketut menjelaskan fluktuasi bahan baku plastik berimbas pada keterlambatan proses lelang kemasan beras Bulog. Untuk itu, Bapanas menerima usulan perusahaan pangan tersebut untuk mengemas beras SPHP menggunakan stok kemasan dari 2023–2025.
Ketut mengatakan ada 12,3 juta lembar stok kemasan dari tiga tahun lalu yang akan dipergunakan kembali. Ia menilai harga beras berpotensi naik sekitar Rp 300 per kilogram jika harga plastik semakin bergejolak. Dalam penggunaan kembali kemasan lama, Bapanas meminta Bulog menyesuaikan informasi pada kemasan agar sesuai dengan kondisi saat ini. Informasi yang perlu disesuaikan meliputi mutu beras, harga eceran tertinggi (HET), nama dagang, hingga tanggal kedaluwarsa. Adapun penyesuaian dapat dilakukan dengan menempelkan stiker pembaruan informasi. Bapanas meminta Bulog agar stiker yang digunakan tidak mudah terlepas dari kemasan, tidak mudah luntur atau rusak, dan terletak pada bagian kemasan yang mudah untuk dilihat, dibaca, dan ditulis, serta dicetak atau ditampilkan secara tegas dan jelas.
