Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan setelah sempat menembus level 17.300 per dolar AS, dipicu kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi AS. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor utama, namun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diperpanjang tiga minggu dapat meredakan tekanan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di Rp 17.280, berfluktuasi tipis ke Rp 17.281, dan ditutup di Rp 17.286 melemah 0,61%. Rupiah diproyeksi bergerak dalam rentang Rp 17.200‑17.350 per dolar AS.
