Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Tekanan APBN 2026 Berpotensi Membengkak

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level terburuk sepanjang sejarah berpotensi memperbesar tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pada Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp17.286 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,61 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS. Sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS, posisi ini menjadi titik terlemah rupiah sepanjang masa, meski akhirnya ditutup sedikit di bawah level tersebut.

Pelemahan ini kian mengkhawatirkan karena berada jauh di atas asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar Rp16.500 per dolar AS. Berdasarkan sensitivitas makro dalam Rancangan APBN 2026, setiap pelemahan Rp100 per dolar AS berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp800 miliar. Artinya, tekanan terhadap fiskal bisa semakin besar jika tren depresiasi berlanjut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi faktor eksternal. Ia menegaskan, pemerintah tidak akan merespons secara reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar. Stabilitas rupiah, menurutnya, menjadi domain otoritas moneter. Dari sisi bank sentral, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan tren mata uang regional, dengan depresiasi sekitar 3,54 persen secara tahun berjalan. “Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Search