Serangan udara Israel kembali memakan korban di Lebanon selatan, kali ini menewaskan seorang jurnalis yang tertimbun reruntuhan bangunan setelah upaya penyelamatan disebut terhambat oleh tembakan lanjutan. Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil di tengah konflik yang belum mereda di kawasan tersebut. Jurnalis yang tewas diidentifikasi sebagai Amal Khalil, yang pada Rabu (22/4/2026) sedang meliput perkembangan situasi di dekat kota al-Tayri bersama fotografer Zeinab Faraj. Menurut keterangan sejumlah saksi, serangan Israel pertama kali menghantam kendaraan di depan mereka.
Keduanya kemudian berlari mencari perlindungan ke sebuah rumah di dekat lokasi. Namun, bangunan tersebut kembali menjadi target serangan Israel tak lama kemudian. Tim penyelamat sempat berhasil mengevakuasi Faraj yang mengalami luka di bagian kepala. Namun, ketika mereka kembali untuk mengevakuasi Khalil, akses menuju bangunan yang hancur justru terhambat. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa militer Israel “mencegah penyelesaian misi kemanusiaan dengan menembakkan granat suara dan peluru tajam ke arah ambulans”. Akibatnya, Khalil tidak dapat segera diselamatkan.
Konflik yang terus berlangsung telah menimbulkan korban besar. Menurut otoritas Lebanon, lebih dari 2.400 orang telah tewas sejak Israel melancarkan ofensif sebagai respons atas serangan roket oleh Hizbullah ke wilayahnya. Israel sendiri telah menguasai sabuk wilayah di perbatasan Lebanon selatan dan menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan membentuk zona penyangga guna melindungi wilayah utara Israel dari serangan Hizbullah, yang selama konflik telah menembakkan ratusan roket ke arah Israel.
