Lindungi UNIFIL, pengamat sarankan RI gandeng Prancis ke DK PBB

Indonesia dapat mengusulkan sidang darurat Dewan Keamanan PBB dengan menggandeng Prancis untuk memperkuat lobi multilateral menyusul korban pasukan UNIFIL di Lebanon, menurut Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii. Indonesia menggandeng Prancis akan memperkuat pengaruh dan lobi di tingkat multilateral. Untuk membantu menjamin keselamatan personel UNIFIL, Indonesia perlu menindaklanjuti hasil pertemuan DK PBB pasca meninggalnya sejumlah personel TNI selagi bertugas di Lebanon.

Syaroni juga menekankan perlunya untuk memperkuat mandat UNIFIL guna menghadapi ancaman yang lebih kompleks. Ia menambahkan bahwa mandat UNIFIL harus diikuti dengan klausul sanksi bagi negara yang melanggar resolusi DK PBB. “Selama ini negara yang melanggar tidak pernah dihukum karena melakukan serangan terhadap personil UNIFIL dan melanggar resolusi DK PBB,” katanya.

Pada 29 dan 30 Maret 2026, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur di Lebanon selatan. Mereka adalah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadhon. Pada Sabtu (18/4), Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan seorang tentara Prancis gugur dan tiga lainnya terluka dalam serangan di Lebanon selatan yang menargetkan UNIFIL.

Search