Kemendikdasmen Akui Laboratorium dan Guru Jadi Tantangan Besar Riset di Sekolah

Pemerintah mulai menyiapkan calon periset sejak jenjang pendidikan dasar dan menengah sebagai bagian dari pembangunan ekosistem riset nasional. Kepala Pusat Prestasi Nasional di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Maria Veronica Irene, menyebut kementeriannya menjadi hulu pembinaan sumber daya manusia karena menjangkau peserta didik sejak PAUD hingga guru menjelang pensiun. Hal tersebut disampaikan dalam acara Open Talk yang digelar di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta.

Tantangan pertama dalam menghadirkan budaya riset di sekolah adalah keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya laboratorium. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas praktikum yang memadai sehingga siswa lebih kuat dalam teori dibanding praktik. Kondisi ini terlihat ketika siswa Indonesia mengikuti ajang International Junior Science Olympiad, di mana kemampuan praktik mereka dinilai kurang optimal karena minimnya pengalaman eksperimen langsung di sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, Kemendikdasmen kini memprioritaskan pembangunan laboratorium melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan.

Tantangan kedua berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, terutama guru. Guru diharapkan menjadi teladan dengan kemampuan berpikir kritis dan memiliki science mindset yang kuat agar pembelajaran tidak sekadar memenuhi jam pelajaran, tetapi mendorong eksplorasi dan penelitian sejak dini. Menurut Irene, penguatan fasilitas dan peningkatan kapasitas guru menjadi kunci utama agar ekosistem riset dapat tumbuh dari level pendidikan paling dasar hingga melahirkan periset masa depan Indonesia.

Search