Strategi Politik Dua Kaki Indonesia dan Perang Pola Pikir ala Kolonialisme Modern

Politik dua kaki ala Soekarno pada era Perang Dingin menunjukkan kecerdikan diplomasi bebas-aktif dengan prinsip “mendayung di antara dua karang”. Ia memanfaatkan rivalitas AS–Soviet pada perang dingin untuk memperoleh keuntungan strategis, menghindari ketergantungan total, memperkuat militer sebagai alat diplomasi, sekaligus membangun citra Indonesia sebagai pemimpin Dunia Ketiga. Strategi ini berhasil merebut Irian Barat tanpa perang besar. Dalam jangka pendek Indonesia disegani karena mampu merebut Irian Barat. Meski citra ini kemudian runtuh akibat rapuhnya ekonomi domestik dan ketergantungan pada alutsista Soviet.

Dalam konteks kini, Prabowo menerapkan pendekatan serupa dengan konfigurasi multipolar yang lebih kompleks. Persamaannya dengar era Soekarno, diversifikasi sumber kekuatan melalui pembelian Rafale, F-15EX, serta kerja sama dengan China dan Rusia mencerminkan strategi bebas-aktif. Namun, tantangan utama bukan hanya militer, melainkan perang pikiran melalui dominasi platform digital, soft power budaya, beasiswa, proxy NGO, dan framing isu global.

Menghadapi kolonialisasi modern berbasis narasi, strategi pertahanan harus berlapis: intelijen untuk memetakan serangan, regulasi ruang digital, produksi narasi tandingan, dan pendidikan kritis untuk memperkuat identitas budaya. Sun Tzu menekankan kemenangan tanpa bertempur, dan dalam era ini, benteng terakhir kedaulatan adalah pikiran generasi muda. Jika negara gagal melindungi ruang ini, desentralisasi pikiran akan runtuh, dan kebijakan publik bisa terseret kepentingan asing.

Search