Para pengamat menyatakan meski Iran terbiasa dengan sanksi AS, namun blokade AS di Selat Hormuz bisa berakibat signifikan pada ekonomi Iran. Melalui pelabuhannya, komoditi utama Iran adalah minyak dan gas yang diangkut melalui Selat Hormuz. Pasokan minyak dunia 20 persen melalui selat ini. Penutupan selat membuat harga minyak melonjak karena minyak dari kawasan teluk harus melalui jalur ini. Ekspor minyak Iran melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 80 persen dari total ekspornya. Sekarang dengan blokade AS, para ahli memperkirakan kapasitas Teheran untuk mengekspor minyak mentah terdampak langsung.
Untuk mengurangi ketergantungan pada selat seperti Selat Hormuz dari Teluk dan Selat Malaka di Asia Tenggara, Iran dan Tiongkok telah mengembangkan jalur kereta api. Keduanya disebut memanfaatkan jalur kereta api yang sudah ada di negara-negara Asia Tengah seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Jalur ini dipakai pertama kali pada Februari 2016 untuk kereta barang yang membawa barang dagangan dari Tiongkok.
Peneliti senior Middle East Council on Global Affairs, Frederic Schneider mengatakan karena sebagian besar tanker Iran menuju ke China, membuat Beijing tidak akan diam saja. Angkatan Laut AS juga sejauh ini seperti tidak berani menyita atau menenggelamkan kapal-kapal ini. Ia menyebut situasi sekarang serba tak menentu. Bisa saja gencatan senjata yang disepakati dua pekan ini tidak akan berlanjut dan malah bakal berujung pada meningkatnya eskalasi perang. Merespons blokade Selat Hormuz, Iran mengancam akan menutup akses menuju Laut Merah terutama di Selat Bab al Mandab di kawasan Yaman.
