Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali tuai sorotan usai nyinyir karena dikritik Kepala Negara Vatikan sekaligus Pemimpin Gereja Katolik Sedunia Paus Leo soal perang Amerika Serikat-Israel vs Iran. Pada 29 Maret, Paus Leo mengatakan Yesus sebagai Raja Damai mengajarkan perdamaian bukan mengobarkan kekerasan bahkan ketika perang di sekitarnya mengancam. Kemudian pada 12 April, Trump membalas kritikan Paus. Ia menyebut Leo tak akan bisa berada di posisi tersebut jika politikus Partai Republik ini tak jadi presiden. Trump lantas menegaskan AS tak butuh Paus yang mengkritik kepala negara dan kebijakannya termasuk saat Washington meluncurkan agresi ke Venezuela.
“Saya tak ingin seorang Paus yang mengira tak apa-apa Iran punya senjata nuklir,” kata dia. “Saya juga tak ingin Paus yang berpikir bahwa serangan Amerika terhadap Venezeula sangat buruk, negara yang mengirim narkoba ke Amerika, dan lebih buruk lagi mengirim pembunuh, pengedar, mengosongkan penjara mereka ke negara kami,” imbuh Trump. Trump juga mengolok-olok Leo dan menyebutnya radikal karena pernah bertemu dengan sejumlah simpatisan eks Presiden Barrack Obama, David Axelrod.
Kemudian pada 13 April, saat hendak melakukan perjalanan Apostolik ke Al Jazair, Paus mengatakan tak takut pemerintahan Trump. Leo mengatakan “tak berniat berdebat” dengan Trump, seraya menegaskan bahwa dirinya “bukan seorang politisi”. Kemudian pada 14 April, Leo kembali menyerukan Tuhan tak suka orang-orang yang menyebabkan kekerasan dan kerusakan. Trump kembali nyinyir ke Puas Leo. Dia berdalih alasan AS menyerang Iran karena pemerintah membunuh 42.000 warga sipil tak berdosa. Pernyataan itu merujuk ke angka korban tewas dalam demonstrasi yang tak bisa diverifikasi lembaga independen mana pun.
