Willy Aditya, Ketua DPP Partai NasDem, menolak istilah merger atau penggabungan partainya dengan Partai Gerindra dalam laporan Majalah Tempo yang dirilis pada minggu (12/4). Willu menyebut Paloh menawarkan blok politik.
Menurutnya, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menawarkan political block atau kerja sama antar partai. Istilah merger yang digunakan oleh Tempo dikritik sebagai miskin literatur politik. Penggunaan merger adalah bentuk diskredit terhadap NasDem dan Gerindra. Willy mengatakan Indonesia memiliki dua sejarah political block yakni pertama saat Bung Karno mengeluarkan dekret Front Nasional atau Nasakom dan kedua, saat Sekber Golkar menjadi Golongan Karya.
Senada dengan Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa, yang mengatakan belum ada diskusi serius soal wacana penggabungan atau merger sekarang masih fokus pada konsolidasi internal. Dia menggunakan istilah lain yakni fusi. Saan pun mengakui tidak mengetahui pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umumnya, Surya Paloh. Namun, dia menilai hal itu wajar apalagi Indonesia pernah melewati masa di mana sejumlah partai digabung menjadi satu pada awal pemerintahan Orde Baru di 1973. Untuk benar-benar terjadi, ada banyak faktor yang dipertimbangkan mulai dari ideologi, idealisme, hingga cita-cita bersama.
