Gencatan Senjata Terancam Bubar, Iran Ngamuk Israel Serang Lebanon

Iran secara terbuka menyatakan kemarahannya terhadap Israel setelah serangan udara besar-besaran kembali menggempur wilayah Lebanon. Hal ini terjadi setelah mitra utama Israel, Amerika Serikat (AS), sepakat melakukan gencatan senjata dengan Teheran yang seharusnya meredakan ketegangan di kawasan tersebut pada Rabu, (08/04/2026). Pernyataan keras tersebut datang dari negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bager Qalibaf. Ia menyebut pembicaraan damai permanen menjadi tidak masuk akal setelah Israel menggempur Lebanon habis-habisan dan menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan karena terus mendesak agar Iran sepenuhnya menghentikan ambisi nuklirnya.

Pihak Israel dan Amerika Serikat kemudian memberikan tanggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu tersebut memang tidak mencakup wilayah Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap sasaran di Lebanon akan terus berlanjut tanpa henti meskipun ada keberatan dari pihak Teheran. “Saya pikir pihak Iran mengira bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, padahal kenyataannya tidak demikian,” kata Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance.

Layanan pertahanan sipil Lebanon melaporkan sebanyak 254 orang tewas akibat serangan Israel di seluruh Lebanon pada Rabu, dengan angka kematian tertinggi berada di ibu kota Beirut. Kondisi ini membuat warga Teheran, Alireza, merasa ragu bahwa proses diplomasi akan benar-benar membawa kedamaian yang berkelanjutan. Meskipun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim kemenangan militer yang menentukan, pihak Iran merasa tetap mampu bertahan dari serangan negara adidaya tersebut. Dewan Keamanan Nasional Agung Iran bahkan merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa pihak musuh telah mengalami kegagalan dalam upayanya.

Search