Pemerintah China melalui Kementerian Pendidikan melakukan reformasi kebijakan pendidikan untuk mengurangi tekanan akademik yang selama ini dinilai memicu stres pada siswa. Sekolah dilarang memberikan pekerjaan rumah (PR) berlebihan serta tidak diperbolehkan menyelenggarakan ujian seleksi bagi siswa SD dan SMP. Selain itu, penghargaan kepada guru maupun siswa berdasarkan keberhasilan masuk perguruan tinggi juga dihentikan guna menekan budaya kompetisi akademik yang berlebihan.
Aturan baru tersebut menegaskan bahwa sekolah tidak boleh mengganggu waktu istirahat siswa dan harus memastikan keseimbangan antara belajar dan kesehatan mental. Pemerintah mewajibkan minimal dua jam aktivitas fisik setiap hari bagi siswa SD dan SMP, serta melarang taman kanak-kanak mengajarkan kurikulum tingkat sekolah dasar. Kebijakan ini muncul karena beban tugas yang tinggi sebelumnya menyebabkan kurang tidur, kecemasan, hingga depresi pada anak.
Sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan siswa, China juga memperkenalkan libur musim semi dan musim gugur agar pelajar memiliki waktu istirahat tambahan selain libur musim panas dan musim dingin. Beberapa institusi pendidikan merespons kebijakan ini secara kreatif, seperti Sichuan Southwest Vocational College of Aviation yang memberikan libur musim semi enam hari bertema menikmati alam dan romansa, sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas hidup generasi muda sekaligus mendorong angka pernikahan dan konsumsi domestik.
