Bank Indonesia dan pemerintah mengidentifikasi tiga jalur utama dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia, yaitu jalur perdagangan, pasar keuangan, dan fiskal. Dari sisi perdagangan, gangguan pasokan minyak global dapat meningkatkan impor energi dan menekan neraca perdagangan. Dari sisi keuangan, ketidakpastian global mendorong capital outflow dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara dari sisi fiskal, APBN harus menanggung peningkatan subsidi dan beban bunga utang sebagai shock absorber.
Secara teoritis, fenomena ini mencerminkan transmisi guncangan global (global shock transmission) ke ekonomi domestik melalui berbagai kanal simultan. Dampaknya bersifat multidimensi: inflasi meningkat akibat energi, stabilitas keuangan terganggu, dan tekanan fiskal meningkat secara bersamaan. Namun, terdapat peluang kompensasi melalui windfall dari ekspor komoditas seperti batu bara dan CPO. Oleh karena itu, ketahanan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kebijakan makro (fiskal dan moneter) dalam merespons shock secara cepat dan terkoordinasi.
