Purbaya Kunci Defisit APBN 2026 di 2,9 Persen Meski Harga Energi Naik

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap dijaga di bawah batas aman 3 persen, meski terjadi lonjakan harga energi global akibat konflik geopolitik. Purbaya menyatakan, pemerintah telah mengunci defisit APBN di kisaran 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), bahkan dengan asumsi harga minyak dunia mencapai 100 dollar AS per barrel sepanjang tahun. Sebelumnya, defisit APBN 2026 diproyeksikan sebesar Rp698,15 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB. Dengan perkembangan terbaru, terdapat tambahan defisit sekitar 0,12 persen akibat dampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Menurut Purbaya, kenaikan tersebut masih tergolong kecil dan tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan pemerintah. Ia menjelaskan, proyeksi defisit sebesar 2,9 persen tersebut menggunakan asumsi harga minyak dunia rata-rata 100 dollar AS per barrel sepanjang tahun. Namun, kondisi aktual saat ini masih berada di bawah asumsi tersebut. Purbaya menyebut harga minyak dunia saat ini berada di kisaran 76–77 dollar AS per barrel, sehingga ruang fiskal pemerintah dinilai masih cukup terbuka.

Untuk menjaga defisit tetap terkendali, pemerintah juga melakukan langkah efisiensi belanja kementerian dan lembaga. Selain itu, pemerintah memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp420 triliun. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum menggunakan SAL untuk menutup kebutuhan anggaran, termasuk dalam menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.

Search