Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perlambatan signifikan pada akhir kuartal I-2026. Indeks PMI (Purchasing Manager’s Index) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari 53,8 pada Februari, menandakan kondisi operasional yang nyaris stagnan. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah. Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat tumbuh.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengungkapkan bahwa penurunan output pada Maret menjadi yang terdalam dalam sembilan bulan terakhir. Selain itu, permintaan ekspor juga mencatat penurunan tajam, memperburuk kinerja sektor manufaktur secara keseluruhan. Bhatti menambahkan, perang di Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap harga dan pasokan bahan baku, yang kemudian berdampak pada produksi dan permintaan serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun. Dari sisi harga, tekanan inflasi semakin meningkat.
Harga input naik ke level tertinggi sejak Maret 2024, sementara harga output mencatat kenaikan tercepat sejak Juni 2022. Kenaikan ini didorong oleh kelangkaan material dan keterlambatan pengiriman, yang bahkan menjadi yang paling parah sejak Oktober 2021. Melemahnya permintaan juga berdampak pada aktivitas produksi dan tenaga kerja. Perusahaan mulai mengurangi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak Juli 2025 serta menekan jumlah tenaga kerja meski dalam skala terbatas. “Data bulan Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan,” pungkas Bhatti.
