Pengusaha Mulai ‘Sesak Napas’, Harga Barang Impor Terancam Naik

Dunia usaha mulai merasakan tekanan akibat konflik di Timur Tengah dengan naiknya biaya produksi. Kondisi ini berpotensi mengerek harga barang impor dalam waktu dekat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan dampak konflik global sudah mulai terasa pada struktur biaya pelaku usaha. Ia menjelaskan komponen biaya yang paling cepat terdampak adalah energi dan logistik karena sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik. Selain itu, bahan baku impor juga mulai mengalami tekanan, terutama pada industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komoditas seperti gula, gandum, dan kedelai, serta bahan penunjang seperti plastik untuk kemasan. Menurut Sinta, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan pelaku usaha, mulai dari efisiensi operasional hingga penyesuaian rantai pasok. Namun, ia mengingatkan ruang untuk menahan beban biaya tidak akan bertahan lama jika tekanan berlangsung berkepanjangan.

Senada, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa menyebut dampak kenaikan harga energi global sudah mulai dirasakan luas oleh pelaku usaha. “Sektor yang paling cepat terdampak adalah logistik, manufaktur padat energi, perikanan, dan transportasi,” ujar Erwin. Sektor yang bergantung pada energi merasakan dampak hampir langsung, sementara sektor lain seperti manufaktur dan ritel mulai terdampak dalam satu hingga dua bulan melalui kenaikan biaya produksi dan tekanan margin.

Dalam kondisi ini, dunia usaha menilai diperlukan langkah konkret dari pemerintah untuk meredam tekanan yang terjadi. “Kami melihat ada beberapa langkah prioritas yang sangat dibutuhkan. Pertama, menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi agar dunia usaha tetap bisa beroperasi dengan kepastian. Kedua, memastikan subsidi dan kompensasi energi tepat sasaran, terutama untuk sektor produktif,” jelas Erwin. “Ketiga, memperkuat cadangan energi nasional dan diversifikasi sumber impor untuk mengurangi risiko geopolitik. Keempat, memberikan stimulus atau insentif sementara bagi sektor yang paling terdampak,” lanjutnya. Ia menambahkan dalam jangka menengah, penguatan ketahanan energi juga perlu dilakukan melalui efisiensi energi, pengembangan biofuel, serta transportasi publik.

Search