Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan 27 Maret 2026 dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp16.900–Rp16.940 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menguat tipis dan ditutup di level Rp16.904 per dolar AS, naik 0,04 persen dibandingkan hari sebelumnya, menurut analis Ibrahim Assuaibi.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Ketidakjelasan negosiasi serta volatilitas harga minyak dunia, termasuk lonjakan harga minyak Brent di atas 119 dolar AS per barel, membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Selain itu, stabilitas jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama pasar global.
Dari dalam negeri, pemerintah memastikan belum ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat, karena APBN masih dinilai cukup kuat menahan tekanan harga minyak. Dengan harga minyak Indonesia (ICP) sekitar 74 dolar AS per barel, sedikit di atas asumsi APBN, kondisi tersebut masih dianggap terkendali. Pengalaman sebelumnya juga menunjukkan Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter di tengah gejolak global.
