Sejumlah negara di dunia mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa pekan terakhir akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Gangguan distribusi energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga minyak dan BBM di berbagai negara.
Kenaikan harga BBM terjadi secara luas, terutama di negara-negara Asia dan berkembang yang sangat bergantung pada impor energi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan menjadi yang paling rentan, sementara di Asia Selatan, Pakistan dan Bangladesh menghadapi tekanan lebih berat hingga harus menerapkan kebijakan penghematan energi seperti pembatasan hari kerja dan penutupan institusi pendidikan. Indonesia juga mengalami kenaikan harga BBM, dengan bensin oktan 95 naik sekitar 2,65 persen.
Lonjakan harga energi global ini berpotensi memicu dampak lanjutan, termasuk kenaikan harga pangan akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi. Negara berpendapatan rendah dinilai paling rentan terhadap tekanan ini karena tingginya porsi pengeluaran untuk kebutuhan pangan dan ketergantungan pada impor komoditas strategis. Secara global, beberapa negara mencatat kenaikan signifikan, seperti Kamboja, Vietnam, dan Nigeria yang mengalami lonjakan harga BBM tertinggi.
