Indonesia memang masih relatif aman dari ancaman depopulasi karena jumlah penduduk diproyeksikan terus meningkat hingga sekitar 333 juta jiwa pada 2050. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah negara maju seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang mengalami penurunan populasi akibat rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya populasi lansia. Depopulasi berpotensi melemahkan produktivitas ekonomi, meningkatkan rasio ketergantungan, serta menimbulkan tekanan fiskal jangka panjang. Tulisan ini menekankan bahwa ancaman depopulasi kini menjadi isu global yang perlu diantisipasi sejak dini oleh Indonesia.
Diskursus kependudukan modern tidak lepas dari pemikiran Thomas Malthus melalui teori Malthusian yang memperingatkan bahaya ledakan penduduk terhadap ketersediaan pangan. Gagasan ini memengaruhi berbagai kebijakan pengendalian kelahiran pada abad ke-20, termasuk kebijakan satu anak di Tiongkok yang berhasil menekan angka kelahiran tetapi menimbulkan dampak jangka panjang berupa penuaan penduduk dan kekurangan tenaga kerja. Jepang juga menghadapi krisis demografi serius dengan populasi lansia yang sangat dominan, menunjukkan bahwa keberhasilan menekan kelahiran tanpa strategi keberlanjutan justru dapat menciptakan masalah baru di masa depan.
Penurunan angka kelahiran global dipicu kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan budaya seperti tingginya biaya hidup, perubahan nilai generasi muda, serta meningkatnya orientasi individualisme. Indonesia mulai menunjukkan gejala serupa dengan Total Fertility Rate yang mendekati tingkat penggantian penduduk dan diproyeksikan terus menurun. Karena itu, kebijakan kependudukan perlu bergeser dari sekadar pengendalian jumlah penduduk menuju penguatan kualitas keluarga melalui tiga pilar utama: peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, kepastian ekonomi bagi keluarga muda, serta penguatan solidaritas sosial. Masa depan demografi Indonesia bergantung pada kemampuan negara menciptakan lingkungan yang membuat membangun keluarga tetap rasional secara ekonomi sekaligus bernilai secara sosial.
