Sejumlah negara Asia Tenggara tetangga Indonesia menjadi ‘korban’ dalam perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel. Pada Senin (9/3), harga minyak dunia pun melambung hingga tembus rekor tertinggi sejak 2022, yakni lebih dari US$100 per barel. Kondisi ini telah mengakibatkan dunia dilanda krisis energi. Apalagi, kapal-kapal tanker minyak hingga kini masih kesulitan melintas di Selat Hormuz. Selat sempit namun vital itu ditutup Iran sejak perang meletus. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengancam akan membakar kapal apa pun yang berani melintas.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memutuskan untuk menerapkan empat hari kerja bagi seluruh masyarakat. Penutupan Selat Hormuz berisiko meningkatkan harga bahan bakar lokal di pekan ini. Sembilan puluh enam (96) persen minyak Filipina diimpor dari Teluk Persia. Perdana Menteri sementara Thailand Anutin Charnvirakul pada Selasa (10/3) meminta pegawai negeri bekerja dari rumah dan menangguhkan perjalanan ke luar negeri. Wakil juru bicara pemerintah Lalida Periswiwatana mengatakan perintah tersebut ditetapkan sebagai upaya menghemat persediaan energi nasional. Pemerintah Vietnam baru-baru ini juga mendorong karyawan bekerja dari rumah “kapan pun memungkinkan”. Anjuran ini digaungkan sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan permintaan BBM. Vietnam memperoleh 87 persen minyak dari Timur Tengah.
Indonesia sendiri sudah merasakan dampak perang Iran vs AS-Israel secara tidak langsung. Sejak perang pecah akhir Februari, banyak penerbangan ke dan melalui Timur Tengah dibatalkan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah sampai jebol Rp17 ribu, hingga potensi lonjakan harga minyak dunia juga menghantui Indonesia di tengah situasi Timur Tengah saat ini. Kementerian Haji dan Umrah juga memaparkan sekitar 2.000 jemaah umrah juga sempat tertahan dan beberapa perjalanan umrah juga dikabarkan dibatalkan atau ditunda imbas ketidakpastian situasi serta keamanan di Timur Tengah.
