Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 700 ribu anak di Indonesia terdeteksi mengalami gejala gangguan kesehatan mental berupa kecemasan dan depresi. Data tersebut diperoleh dari hasil skrining dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap sekitar 7 juta anak dari target 25 juta anak yang akan diperiksa. Dari jumlah tersebut, sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan dan sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi.
Menurut Menkes, temuan ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada anak sebenarnya cukup besar, tetapi selama ini belum banyak terdeteksi karena minimnya pemeriksaan. Gangguan yang paling banyak ditemukan adalah kecemasan dan depresi, dengan kelompok usia remaja sekitar 11–17 tahun menjadi yang paling rentan. Bahkan, data survei kesehatan global pelajar menunjukkan tren peningkatan anak yang memiliki pikiran atau percobaan bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah menilai masalah kesehatan mental anak dipengaruhi berbagai faktor, seperti konflik keluarga, pola pengasuhan, perundungan, hingga tekanan di lingkungan sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kesehatan berencana memperluas skrining kesehatan mental ke lebih banyak anak serta meningkatkan layanan dukungan psikologis, termasuk penambahan tenaga psikolog di puskesmas dan penguatan peran sekolah dalam mendeteksi serta mendampingi anak yang mengalami masalah kesehatan jiwa.
