Tolak Gencatan Senjata, Iran Tegaskan Hanya Mau Perang Berhenti Permanen

Iran menolak seruan gencatan senjata dalam konfliknya melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan terus melanjutkan perlawanan demi rakyatnya hingga tercapai penghentian perang secara total dan permanen. Araghchi menuding pihak AS dan Israel telah melakukan pelanggaran kemanusiaan yang berat. “AS dan Israel membunuh rakyat kami, mereka membunuh siswi-siswi, Anda tahu, mereka menyerang rumah sakit,” kata Araghchi.

Menurutnya, AS-Israel telah melanggar gencatan senjata yang dicapai untuk mengakhiri perang 12 hari tahun lalu. Karena itu, ia menganggap gencatan senjata dalam perang kali ini tak akan berhasil dicapai. “Perang ini harus diakhiri secara permanen. Kecuali kita mencapai hal itu, saya pikir kita perlu terus berjuang demi rakyat dan keamanan kita,” ujarnya. Pada Jumat (6/3/2026), empat sumber mengatakan kepada NBC News bahwa Rusia memberikan informasi intelijen kepada Iran tentang lokasi pasukan AS di Timur Tengah. Ini termasuk data intelijen yang dapat membantu Iran menemukan kapal perang AS. Merespons laporan itu, Araghchi menganggap kerja sama antara Iran dan Rusia bukanlah hal baru.

Pada Sabtu (7/3/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, Iran tak lagi menyerang negara-negara Teluk, kecuali mereka memfasilitasi serangan AS-Israel. Namun, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak menyerang negara-negara tetangga secara sengaja. Ia juga merespons tudingan Presiden AS Donald Trump yang menganggap Iran segera memiliki rudal yang mampu mencapai AS. Menurutnya, tudingan itu tidak benar. Araghci juga menolak campur tangan Trump dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran.

Search