Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, ditandai serangan balasan Iran menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak ke pangkalan AS di Qatar dan Uni Emirat Arab. Situasi semakin memanas setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan gugur. Serangan udara yang saling berbalasan membuat kondisi keamanan kawasan tidak kondusif dan berdampak langsung pada sektor pendidikan tinggi.
Sejumlah kampus asal AS yang memiliki cabang di Timur Tengah turut terdampak, antara lain Georgetown University, New York University, Carnegie Mellon University, Northwestern University, Virginia Commonwealth University, Texas A&M University, serta Weill Cornell Medicine. Kampus Georgetown di Qatar menyatakan peralihan ke pembelajaran daring mulai 3 Maret 2026, sebagaimana dikutip The New York Times. Langkah serupa diambil oleh Virginia Commonwealth School of the Arts di Doha dan Weill Cornell Medicine-Qatar, dengan seluruh aktivitas akademik dan kerja dialihkan ke sistem jarak jauh. Bahkan, beberapa institusi mulai mempertimbangkan penutupan permanen cabang mereka akibat ketidakstabilan keamanan.
Pemerintah di kawasan itu juga mengambil kebijakan serupa. Otoritas pendidikan di Qatar dan Bahrain mengumumkan peralihan pembelajaran ke sistem daring tanpa batas waktu yang pasti, sementara UEA menerapkan kebijakan serupa sejak awal Maret 2026, sebagaimana dilaporkan Times Higher Education. Di dalam negeri, Iran menutup seluruh universitas sejak serangan terhadap Teheran pada 28 Februari 2026. Berdasarkan laporan IRNA yang dikutip AFP, penutupan berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut. Selain itu, akses internet kembali dibatasi, menyebabkan situs Sharif University of Technology, Universitas Teheran, dan Amirkabir University of Technology tidak dapat diakses.
