Pemerintah mewaspadai risiko gangguan rantai pasok global akibat perang Iran‑AS‑Israel dan penutupan Selat Hormuz, namun menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut‑turut. Pada Januari 2026 neraca perdagangan mencatat surplus US$950 juta, didukung ekspor US$22,16 miliar (+3,39 % yoy) terutama non‑migas, serta impor US$21,20 miliar (+18,21 % yoy) yang mencerminkan produksi dan investasi domestik yang kuat.
Indikator domestik tetap kuat: PMI manufaktur 53,8 pada Februari 2026, IPR naik 7,9 % yoy, IKK berada di 127, sementara inflasi Februari 2026 sebesar 4,76 % yoy diperkirakan kembali normal pada Maret 2026. Pemerintah akan menjaga defisit APBN di bawah 3 % PDB serta memperkuat kebijakan hilirisasi dan diversifikasi mitra dagang.
