Belanja Negara Bisa Bengkak Rp 10,3 Triliun tiap Kenaikan 1 Dollar AS Harga Minyak

Kenaikan harga minyak mentah dunia bisa berpengaruh pada belanja negara dan menjadi pukulan bagi ekonomi Indonesia. Sekretaris Kemenko bidang Perekonominan (Sesmenko), Susiwijono Moegiarso mengatakan kenaikan harga minyak merupakan hal yang sensitif untuk anggaran belanja negara. “Harga minyak ini sensitivitasnya ke anggaran kita cukup tinggi karena APBN kita setiap kenaikan 1 dollar AS ICP (Indonesian Crude Price), itu dari sisi belanja kita harus tambah Rp10,3 triliun. Rp10,3 triliun belanjanya karena ada subsidi, kompensasi energi,” ujar Susi dalam “UOB Media Editors Circle How the Middle Class Thrives in Economics Volatility“, Senin (2/3/2026). Kendati demikian, ia menambahkan, Indonesia juga akan mendapatkan penerimaan Rp3,6 triliun per kenaikan 1 dolar AS ICP dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) SDA Migas. Dengan skenario tersebut, terdapat defisit yang ditanggung pemerintah sekitar Rp6,7 triliun dari tiap kenaikan 1 dola AS ICP.

Ia berpandangan, ketika rantai pasok global logistik nanti terganggu, seperti waktu perang Ukraina dulu, pasti akan seluruh komoditas global akan terpengaruh sehingga akan terjadi kenaikan harga. Jika itu semua terjadi maka ujung-ujungnya tekanan inflasi yang akan meningkatkan harga bukan hanya energi, melainkan juga bahan baku industri dalam negeri yang sebagian besar impor. Kondisi tersebut akan membuat investor melirik safe haven dan harga emas serta obligasi pemerintah diproyeksikan akan naik. “Sehingga akan menekan pasar saham dan sebagainya,” tutup dia.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan menyatakan konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berpotensi menimbulkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, mulai dari kenaikan inflasi, nilai tukar rupiah, hingga suku bunga, seiring meningkatnya harga komoditas global. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Surjantoro mengatakan, konflik tersebut dapat memicu kenaikan sejumlah harga komoditas strategis, terutama minyak mentah, batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel.

Search