Sejumlah pengamat mata uang menilai memanasnya konflik geopolitik di Iran dapat menyebabkan nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.000 per dollar AS pada pekan ini. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (27/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,17 persen ke level Rp 16.787 per dollar AS. Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.750-16.900 per dollar AS pada perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026). Namun tidak menutup kemungkinan rupiah akan melemah hingga ke level Rp 17.000 pada pekan ini, seiring meningkatnya sentimen risk off akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kendati demikian, kata Lukman, rupiah berpotensi tidak melemah terlalu dalam karena dia memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan melakukan intervensi di pasar uang.
Bank sentral terus memastikan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Strategi ini disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sementara itu, Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi juga memperkirakan, memanasnya konflik AS dan Israel ke Iran dapat memicu pelemahan rupiah yang signifikan. Padahal tanpa adanya sentimen negatif dari geopolitik di Timur Tengah tersebut, rupiah sudah berpotensi melemah akibat penerapan tarif impor dari AS. Dengan adanya dua sentimen dari eksternal tersebut, rupiah diperkirakan akan menuju level Rp 17.000 per dollar AS. Oleh karenanya, dia berharap pelemahan rupiah ini dapat segera diantisipasi oleh BI dengan melakukan intervensi di pasar uang.
