Mewaspadai Inflasi Pasca-Gejolak Harga Minyak Mentah

Dunia dikejutkan oleh kabar meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Iran bukan produsen kecil. Ia bagian penting dari struktur pasokan minyak global dan memiliki posisi strategis dalam dinamika Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Pasar global segera bereaksi. Harga minyak mentah bergejolak, premi risiko melonjak, dan kekhawatiran atas stabilitas Selat Hormuz kembali mencuat. Pasar minyak tidak menunggu kepastian politik; ia bergerak berdasarkan ekspektasi. Dan ekspektasi yang dibayangi konflik hampir selalu bermuara pada kenaikan harga.

Indonesia telah menjadi net importer minyak sejak dua dekade terakhir. Konsumsi energi nasional melampaui produksi domestik. Artinya, setiap lonjakan harga minyak global akan merembes melalui mekanisme harga BBM, biaya logistik, dan pada akhirnya harga pangan. Ia bisa menjelma menjadi Inflasi yang menyentuh harga beras, cabai, telur, hingga ongkos transportasi harian. Inflasi yang bersumber dari energi—cost-push inflation—tidak mudah dikendalikan hanya dengan menaikkan suku bunga. Ketika pangan naik, daya beli melemah. Ketika daya beli melemah, konsumsi—yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia—ikut tertekan.

Search