Berdasarkan data Water Resources Data Center (WRDC), dari ribuan situ yang sebelumnya terdata, saat ini hanya terdapat 187 situ yang berada dalam pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane. Namun, dari 187 situ tersebut pun tak seluruhnya masih berfungsi sebagai pengendali banjir. Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, David Partonggo Oloan Marpaung, membenarkan adanya penyusutan yang cukup signifikan pada jumlah situ di wilayah kerjanya.
Hal ini dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta perubahan tata ruang. Banyak kawasan situ yang telah diuruk dan diubah menjadi lahan darat, kemudian dibangun menjadi kawasan terbangun permanen seperti kawasan perumahan. Akibatnya, luas tampungan air terus berkurang secara drastis. Menurut David, alih fungsi lahan tersebut membuat situ tidak lagi mampu menjalankan perannya secara optimal karena kehilangan dua fungsi vitalnya di lingkungan. Fungsi vital pertama yang hilang adalah sebagai kawasan konservasi air, di mana situ sejatinya berperan menyimpan air, membantu proses peresapan, serta menjaga cadangan air tanah untuk jangka panjang. Fungsi kedua yang turut sirna adalah peran situ sebagai pengendali banjir alami.
Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk menyelamatkan 187 situ yang masih tersisa di kawasan Jabodetabek. David memaparkan bahwa pihaknya memformulasikan empat langkah utama untuk menjaga keberadaan danau-danau alami tersebut. Yaitu dengan pertama, lakukan kajian dan penetapan sempadan, kedua melakukan kajian penataan kawasan situ agar dapat berfungsi lebih optimal sebagai pengendali banjir alami, ketiga implementasi atau pelaksanaan penataan kawasan situ sesuai hasil kajian teknis, dan terakhir melaksanakan penguatan pemeliharaan situ yang telah ditata.
