Putaran kedua perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berakhir tanpa hasil konkret. Pembicaraan yang dimediasi Oman itu kembali digelar di Jenewa, Swiss, pekan ini, menyusul putaran awal pada 6 Februari. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi datang bersama delegasi teknis dan, menurut juru bicara kementeriannya, siap bertahan selama beberapa hari bahkan beberapa pekan hingga tercapai kesepakatan.
Mohammad Ghaedi, pakar hubungan internasional Timur Tengah dari George Washington University, menilai inti konflik belum berubah. “AS tidak menerima pengayaan uranium Iran. Itu garis merah mereka. Teheran juga tak akan menghentikan pengayaan,” ujarnya. Bagi Washington, penghentian pengayaan uranium adalah syarat utama. Bagi Teheran, menghentikan sentrifugal berarti menanggalkan opsi kemampuan penangkal nuklir. Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menegaskan fasilitas nuklir Iran terbuka bagi pengawasan Badan Energi Atom Internasional.
Ghaedi mengingatkan, keputusan memulai perang mungkin berada di tangan Amerika, tetapi lamanya konflik dan dampaknya tak sepenuhnya bisa dikendalikan. Untuk saat ini, diplomasi dan ancaman berjalan beriringan. Optimisme disuarakan, garis merah dipertahankan, dan Selat Hormuz tetap menjadi simbol betapa tipis jarak antara negosiasi dan konfrontasi.
