Fenomena cancel culture merujuk pada pemberian sanksi sosial secara kolektif terhadap individu atau institusi yang melanggar norma. Saat ini cancel culture terlihat efektif di industri hiburan namun belum terlihat di ranah politik. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang akuntabilitas dan keadilan di ruang publik digital.
Dalam kajian ilmiah, cancel culture, dipahami sebagai bentuk ostrasisme digital atau pengucilan dari komunitas sebagai hukuman sosial. Pendukung cancel culture melihatnya sebagai sarana akuntabilitas sosial yang memaksa perubahan perilaku akibat adanya tekanan publik. Sebaliknya, kritik terhadap cancel culture menyoroti mentalitas massa melalui emosi kolektif dengan logika viralitas yang lebih dominan daripada verifikasi fakta yang belum tentu kebenarannya. Walaupun begitu, di dunia hiburan, figurannya mudah dihukum dengan praktik ini. Namun di dunia politik, figur dengan kuasa struktural jarang tersentuh. Politikus tidak sepenuhnya bergantung pada reputasi moral untuk mempertahankan posisi, ia lebih sering dibangun melalui identitas kelompok dan loyalitas jangka panjang. Mereka juga memiliki perlindungan struktural dengan melancarkan narasi tandingan. Dimensi hukum pun memperumit persoalan dengan aturan pencemaran nama baik melalui kriminalisasi kritik. Hal ini terjadi karena cancel culture di ranah politik memiliki biaya yang tinggi bukan hanya uang namun juga risiko sosial, hukum, dan psikologis.
Secara ilmiah, kondisi ini sejalan dengan teori institutional resilience. Institusi politik memiliki kapasitas menyerap guncangan sosial tanpa berubah secara signifikan. Cancel culture menjadi ekspresi frustasi bukan mekanisme koreksi politik. Kegagalan cancel culture dalam ranah politik disebabkan oleh lemahnya relasi antara opini publik dan keputusan politik. Sehingga apabila wacana pemilihan kepala daerah tidak langsung di implementasikan maka ruang koreksi publik akan semakin menyempit. Logika cancel culture pun kehilangan relevansi sebagai tekanan politik karena saluran institusionalnya justru dilemahkan.
