Badan Industri Mineral (BIM) menargetkan nilai hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) mencapai US$ 7,42 miliar (Rp 124,61 triliun) pada 2030. Jumlah ini berasal dari nilai dasar LTJ dan tambahan nilai mineral ikutan dalam skema pengembangan bersama. Selain nilai hilirisasi, Indonesia juga memiliki peluang untuk memainkan peran 1-5% di industri LTJ dunia.
Presiden Prabowo meminta BIM mengembangkan mineral kritis seperti antimoni, tantalan, dan tungsten untuk industri pertahanan, namun tantangan utama terletak pada teknologi karena banyak negara hanya ingin membeli bahan mentah dan menolak kerja sama hilirisasi di Indonesia. BIM akan menjalankan proyek pilot hilirisasi LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat melalui BUMN Perminas. Perminas dibentuk pada akhir 2025 di bawah Danantara, untuk menunjukkan kemampuan Indonesia dalam pemisahan dan pemurnian serta menarik mitra asing.
